Berbagi Pemahaman Merdeka Belajar
MERDEKA BELAJAR
Pada topik merdeka belajar ini ada pemahaman dan prinsip pendidikan berdasarkann pemikiran KHD, pemahaman untuk memfasilitasi murid agar tumbuh sesuai kodratnya dan penerapan pembelajaran yang memerdekakan murid.
Adapun pembahasannya sebagai berikut :
1. Mengenali dan Memahami Diri Sebagai Pendidik
Mengenal diri dan
Peran Sebagai Pendidik
Dimodul ini diawali
dengan merefleksikan diri sendiri berdasarkan pemikiran KHD mengapa dulu kita
memutuskan menjadi guru, dan bagaimana kita berjuang untuk mendapatkan profesi
ini
Sebagaimana
disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam Dasar-Dasar pendidikan, maksud
pendidikan itu adalah segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar
mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik
sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sebelum seorang guru dapat memerdekakan murid
dalam belajarnya seorang guru harus dapat memaknai dan menghayati diri
sebagai manusia yang merdeka dan terus belajar sehingga mampu menuntun
murid-murid memperbaiki lakunya dan menumbuhkan kekuatan kodratnya
Ki Hadjar Dewantara “ menyamakan
mendidik anak dengan mendidik rakyat” menurut Ki Hadjar Dewantara, “ kehidupan
kita saat ini adalah buah dari pendidikan yang kita terima saat kita masih
anak-anak” Begitu pula dengan anak-anak yang saat ini belajar bersama kita
kelak akan menjadi bagian dari masyarakat di masa depan. Ibu
dan Bapak Guru, hari ini kita belajar bahwa ternyata peranan seorang pendidik
sangat besar. Hal apapun yang kita lakukan di kelas, dari segi memfasilitasi
proses belajar, atau hal sekecil ucapan pujian maupun cemoohan yang tidak
sengaja terucap akan meninggalkan makna bagi murid-murid, yang kelak akan
menjadi bagian masyarakat.
Sebagai guru mesti
hadir secara utuh. Setiap hal kecil yang kita sampaikan di kelas akan
berkontribusi pada kecakapan hidup anak dewasa. Semua yang kita rancang untuk
disimak murid-murid mesti bertujuan. Sebab saat mengajar di dalam
kelas, Ibu dan Bapak Guru sebenarnya sedang membentuk masyarakat, membentuk
budaya masa depan lewat murid-murid kita. Semangatlah untuk terus belajar
ibu dan bapak guru, wahai para pembentuk kebudayaan masa depan. Mari kita
bersama terus belajar demi meraih tujuan pendidikan menjadi manusia merdeka
yang kelak akan menuntun murid-murid manusia merdeka pula.
Ingin menjai guru seperti Apa kita?
Setelah mengingat-ingat kenangan masa sekolah, mari kita
mengenang pula awal mula memilih profesi mulia ini. Ketika memutuskan bekerja
sebagai guru, sebenarnya kita ingin menjadi sosok guru seperti apa, apakah
ingin menjadi guru yang bisa menularkan energi positif pada murid-murid? Apakah
ingin menjadi guru yang membuat murid terus tertarik untuk belajar dan
membekkalinya dengan kemampuan untuk terus belajar hingga akhir hayat? Selamat
dan bahagia serta siap hidup dan mengisi zamannya?
Ibu dan Bapak Guru, menjadi guru atau pendidik itu sangat
menantang, apalagi dengan perubahan zaman yaang dinamis seperti yang kita alami
saat ini. Guru perlu adaptif terhadap perubahan seperti disampaikan Ki Hadjar
Dewantara, pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya
budi pekerti yaitu kekuatan batin dan karakter pikiran atau intelek dan tubuh
anak.
Tidak hanya materi yang kita ajar, tapi juga semua tingkah laku,
tututr kata, dan cara kita mengajar akan membekas dan membentuk murid-murid
sebagaimana kita dibentuk oleh guru-grur kita dahulu. Memang tidak mudah namun,
layak diperjuangkan. Ibu dan Bapak Guru, menciptakan rasa takjub dan
kasmaran belajar pada murid-murid.
2 Mendidik dan Mengajar
Modul ini terdiri dari 3 materi antara lain
Materi Mendidik Menyeluruh
Ibu dan Bapak Guru pemahaman terhadap kata “pendidikan dan
pengajaran” kadang masih membingungkan. Penggabungan istilah tersebut dapat
mengaburkan pengertian yang sesungguhnya. Pengajaran adalah suatu cara
menyampaikan ilmu atau manfaat bagi hidup anak-anak secara lahir maupun batin.
Maka pengajaran merupakan salah satu bagian dari mendidik. Sementara pendidikan
adalah tempat menaburkan benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat
sekaligus sebagai instrumen tumbuhnya unsur peradaban agar kebudayaan yang kita
wariskan kepada anak cucu kita dimasa depan.
Ki Hadjar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan,
yaitu tuntunan dalam hidup tumbuhnya murid. Maka mendidik adalah menunutun
segala kodrat yang ada pada murid agar mereka dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan setinggi-tingginya baik itu sebagai manusia maupun sebagai anggota
masyarakat. Layaknya seorang petani yang menanam padi,
ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi mengusahakan kondisi yang terbaik agar
padi dapat tumbuh sesuai kodratnya. Petani mungkin dapat memperbaiki keadaan
tanaman padinya atau bahkan menghasilkan tanaman padi lebih besar daripada
tanaman padi yang tidak diperlihara. Bagaimanapun ikhtiar yang terbaik yang
dilakukan oleh petani untuk tumbuhnya padi tidak akan dapat membuat tanaman
padi itu tumbuh menjadi tanaman jagung atau tanaman lainnya.
Sebagai pendidik kita perlu cermat dalam menempatkan pendidikan
pikiran murid, sesuai dengan konteks pendidikan nasional berdasarkan
garis-garis bangsanya atau, kultural nasional yang akan melengkapi, mempertajam
dan memperkaya pendidikan keterampilan berpikir murid. Setiap murid memiliki
kekuatan yang memerlukan tuntunan orang dewasa. Menuntun potensi murid
bertujuan agar ia semakin baik adabnya dan untuk mendapatkan kecerdasan yang
luas sehingga ia terlindungi dari pengaruh-pengaruh yang dapat menghambat
bahkan melemahkan tumbuhya potensi atau kekuatan dirinya.
Ada murid yang tidak memiliki kesempatan mendapatkan tuntunan
yang baik sehingga ia cenderung tidak dapat menumbuhkan dan mengembangkan
kekuatan atau potensinya dengan maksimal. Ada juga murid yang mendapatkan
tumbuh dengan baik namun kekuatanatau potensinya tidak dapat tumbuh atau
berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh yang membatasi tumbuh kembangnya
potensi yang ia miliki.
Sebagai orang dewasa kita dapat berupaya membangun dan menjaga
suasana lingkungan yang kondusif agar setiap murid dapat tumbuh dan berkembang
sesuai dengan kodratnya . Seumpama dua garis yang saling tarik menarik dan saling
mempengaruhi yang pada akhirnya berujung menjadi satu. Dua garis itu adalah
garis dasar yang manggambarkan potensi dari murid dan garis keadaan yang
menggambarkan kesempatan untuk berkembang. Kedua garis ini saling berhubungan
yang menurut ilmu pendididkan disebut konvergensi.
Buah dari tuntunan kepada murid adalah berkembangnya akal budi
murid yang mendorong terciptanya kebudayaan. Contohya kebudayaan gotong royong
membersihkan dan menghias kelas, serta sekolah yang melibatkan murid dapat
menumbuhkan karakter dan kecakapan sosial emosional. Guru dapat memberikan
praktek pembelajaran yang mengembangkan kerjasama, empati menghargai sesama dan
berkontribusi sosial kepada sesama. Sehingga murid dapat menemukan dan
terbekali dengan kebudayaan bangsa akan semakin kuat dan tentu saja akan
mebantu murid atas kehidupan dan penghidupannya. Lalu bagaimana dengan
pembelajaran di kelas kita saat ini, apakah kita sudah mendidik anak dengan
menyeluruh dan mungkin kita hanya sebatas mengajar? Mari refleksikan bersama.
Materi Pendidikan Selama Satu Abad
Ibu dan bapak guru, metode pengajaran di zaman Kolonial Belanda
yang menggunakan sistem pendidikan perintah dan sanksi, tanpa sadar masuk ke
dalam warisan cara guru-guru kita mendidik murid-muridnya. Bahkan mungkin sampai
saat ini praktek itu masih ditemukan kasus kekerasan pada murid di sekolah.
Murid mendapat hukuman atau sanksi ketika mereka belum atau tidak mengerjakan
perintah guru dari guru.
Contoh lain adalah sistem penilaian atau penghargaan yag terlalu
berorientasi pada kecakapan kognitif. Misalnya kapan murid diukur dari hasil
ujian sumatif yang menguji kecakapan kognitif semata, akibatnya murid berusaha
keras melatih kecakapannya dengan mengerjakan kisi-kisi soal ujian hingga
mendapat nilai dan penghargaan dari sekolah. Nah fokus pada oriebtasi kognitif
ini menyebabkan perkembangan kecakapan sosial emosional mulai terabaikan. Di
sisi lain, jika murid belum mampu memenuhi tuntutan-tuntutan ujian sumatif yang
sangat berat tidak jarang murid-murid kita mendapat penghakiman , mereka
dianggap gagal dalam belajar. Hal ini bertentangan dengan keadaan dan
kebudayaan bangsa timur. Sebagai perlawanan terhadap sistem yang diskriminatif
ini Ki Hadjar Dewantara menggagas perlunya sebuah sistem pendidikan yang
humanis dan transformatif yang dapat memelihara kedamaian dunia.
Ki Hajar Dewantara memperkenalkan sistem among yaitu yang
dikenal dengan slogannya Ing Ngarso Sung Tulodo artinya seorang guru haruslah
berkomitmen menjadi seorang teladan. Ia harus memberikan contoh yang baik. Ing
Madya Mangunkarsa artinya seorang guru haruslah membangkitkan atau menguatkan
semangat murid-muridnya bukan orang yang melemahkan semangat. Dan Tut wuri
Handayani yaitu seorang guru haruslah memberikan dorongan atau menjadikan
murid-muridnya orang –orang yang mandiri atau orang-orang yang mandiri atau
orang –orang yang merdeka yang tumbuh dan kembang secara maksimal.
Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan yang sesuai dengan bangsa
kita adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan dan kebangsaan, pemikiran Ki
Hajar Dewantara tersebut adalah gagasan yang melampaui zamannya,
dimana beliau hidup dan masih relevan hingga masa sekarang ini,
terbukti atas kepribadian bangsa Indonesia yaitu yang mengandung harkat diri
dan kemanusiaan yang menjadi landasan praktek pendidikan saat ini. Tidak hanya
di Indonesia tapi juga di negara-negara lain. Maka kita sebagai pendidik harus
dapat mengahayati pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan yang
humanis yang terbukti masih relevan bahkan hingga masa kini dan akan mampu
mengantarkan murid siap mengisi zamannya kelak.
Untuk mencapai semua dasar utama yang dicita-citakan oleh
Ki Hadjar Dewantara yaitu kemerdekaan setiap murid yang mampu mengatur dirinya
sendiri agar murid-murid berperasaan, berpikiran, dan bekerja merdekan dalam
ketertiban bersama demi mewujudkan cita-cita pendidikan
nasional. bu dan Bapak Guru hanya
mengandalkan naluri mendidik tidaklah cukup, kita juga perlu melengkapinya
dengan ilmu pendidikan yang selaras dengan zamannya. Tuntunan yang baik kepada
murid didasarkan pada panduan atau teori atau pengetahuan tentang tuntunan yang
terbaik dalam mendidik murid. Kita membutuhkan semacam pagar atau pelindung
yaitu dukungan dari rakyat atau masyarakat untuk bersama-sama menjaga atau
menolak semua bahaya yang mengancam kekuatan-kekuatan dan potensi yang sedang
tumbuh dari dalam diri murid-murid kita.
Mari kita renungkan bersama, apakah kita sudah mempraktekkan
pembelajaran sesuai dengan cita-cita sistem pendidikan nasional yang digagas
oleh Ki Hadjar Dewantara? Langkah apa yang dapat kita lakukan untuk
bersama-sama kita bisa mewujudkaannya?
Materi Menjadi Manusia (secara )Utuh
Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki dua
bagian utama pada tubuhnya yaitu badan jasmani atau lahir dan badan rohani atau
batin. Atas karunia Tuhan Yang Maha Esa pula, manusia memiliki akal
yang digunakan untuk berpikir untuk merasa dan berkarya. Bersatunya pikiran,
perasaan, dan kehendak dapat menimbulkan daya dan memunculkan budi pekerti
yang menandakannya sebagai manusia merdeka yaitu manusia yang dapat memerintah
dan menguasai dirinya atau mandiri dan itulah kodrat sebagai manusia. Sehingga
agar manusia mengetahui kebutuhan lahir dan batinnya sendiri, kita sebagai
pendidik dapat mebantu murid untuk memenuhi kebutuhan keduanya agar mencapai
keseimbangan dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian memandang murid sebagai manusia secara utuh
harus menjadi dasar kita sebagai pendidik dalam mendampingi murid-murid
menentukan tujuan belajar, mernecanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
murid baik secara lahir maupun batin yang akan membantu murid-murid kita
mengembangkan kekuatan lahir batin. Sebagai pendidik kita tidak cukup hanya
membantu memberikan pengajaran yang berorientasi pada penguatan, keterampilan
berpikir atau kognitif saja, tetapi juga mendampingi murid-murid untuk mengembangkan
kekuatan batinnya yaitu sosial, emosi, emosi dan lain sebagainya.
Murid juga sebaiknya dilatih dan dikuatkan kebutuhan batinnya
dalam menentukan tujuan belajarnya mengembangkkan kerjasama, membangun embati,
menghargai sesama, sesama refleksi diri untuk mengembangkan dirinya dan
tentunya berkontribusi di lingkungan sosialnya. Sehingga pembelajaran yang
direncanakan sesuai dengan kebutuhhan belajar murid dan ditujukan untuk
memajukan perkembangan budi pekerti akan membantunya menajdi manusia-manusia merdeka
Manusia merdeka perlu memiliki modal keterampilan berpikir atau
bernalar yang baik. Keterampilan yang berpikir atau bernalar membutuhkan proses
sepanjang hayat. Proses mangasah nalar atau keterampilan berpikir murid menurut
Benjamin Bloom dan Anderson yang disebut level kognitif yaitu mengingat,
memahami, mengaplikasikan, menganalisis. Mengevaluasi dan mencipta. Sesuatu
dapat difasilitasi dalam proses pembelajaran disemua jenjang pendidikan, PAUD,
Dasar, Menengah dan Tinggi.
Dan juga perlu disadari bagi kita sebagai pendidik bahwaa
semua level kognitif dan mulai mengingat sampai mencipta atau mengkreasi ini
dapat dicapai pada semua jenjang pendidikan, dimana kedalaman dan komplesitas
ppembelajaran dapat disesuaikan dengan tahap-tahap perkemabngan.. Makan tujuan
pendidikan untuk mengasah nalar murid dapat terwujud sebagai bekal pengembangan
pendidikan budi pekerti.
Mari kita renungkan bersama, apakah kita sudah menjadikan murid-murid kita manusia seutuhnya? Apakah kita sudah membantu memberikan asupan kebutuhan lahir dan batin murid? Dan bagaiman cara kita untuk mendampingi untuk mengasah keterampilan bernalar murid dengan sebaik-baiknya? 3
3. Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh
1. Kodrat Keadaan
Ki Hadjar Dewantara mengatakan
bahwan segala perubahan yang terjadi pada murid dihubungkan dengan kodrat
keadaan, baik alam maupun zaman. Lalu, bagaimana cara kita menghubungkan dasar
pendidikan murid dengan kodrat alam dan kodrat zaman? Kodrat alam adalah dasar pendidikan murid yang
berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana mereka berada. Murid dengan
kodrat alam perkotaan sejatinya dilihat sebagai bagian dari masyarakat
perkotaan. Maka, pembelajaran yang diterima murid sebaiknya mampu membantu
mendekatkannya dengan konteks atau kodrat alamiah bukan sebaliknya malah
menjauhkannya
Tidak jarang kita menjumpai guru membantu memberikan ilmu dan wawasan
diluar konteks dimana murid tinggal dan hidup. Misalnya, mayoritas murid adalah
anak petani karet, diberikan wawasan dan informasi bagaimana menjaga
kelestarian dan ekosistem laut. Sebenarnya tidak apa-apa, mungkin saja murid
akan mendapat informasi dan cara bagaimana menjaga kelestarian laut. Apakah
cara dan informasi itu sesuai dengan kodrat alam murid? Oleh sebab itu, karena
guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar murid maka, guru dapat
membantu murid dengan memberikan pembelajaran kontekstual. Guru berperan
sebagai penghubung murid dengan sumber-sumber belajar yang ada disekitar murid
atau di sekolah maupun dengan sumber-sumber belajar digital yang mengaitkan
setiap materi dengan konteks di mana murid hidup
Sementara kodrat zaman adalah bagian dasar pendidikan murid yang
berhubungan dengan isi dan irama. Isi dan irama pendidikan bergerak dinamis
sesuai dengan perkembangan zaman. Muatan pendidikan dan cara belajar dikala
kita sebagai murid pasti berbeda dengan zaman saat ini. Pendidikan setelah masa
kemerdekaan tentu juga berbeda dengan pendidikan pada abad ke-21. Maka, kita
pendidik bergegas beradaptasi terhadap kodrat zaman untuk membantu murid
mencapai selamat dan bahagia.
Contohnya, guru yang
terbiasa mengajar dengan menggunakan metode utama ceramah, menyampaikan informasi-informasi
yang sudah ada di mesin pencari atau digital, membuat murid memiliki kompetensi
yang tidak relevan dan sesuai dengan keterampilan abad ke-21 yaitu berpikir
kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaborasi. Maka sebagai pendidik, kita juga
dapat membantu memberikan pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan
kecakapan tersebut.
Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam
pendidikan secara global, Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa
pengaruh-pengaruh dari luar hendaknya tetap dipilah, mana yang sesuai dengan
kearifan lokal, sosial, budaya Indonesia. Cara merespon banyaknya pengaruh luar
tersebutlah yang menjadi perhatian kita sebagai pendidik. Penanaman budaya
kearifan lokal yang logis dapat membantu murid menjadi bijak dalam kehidupannya.
Jika kita dapat memegang kuat kearifan lokal budaya Indonesia. Kita juga akan
mampu merespon pengaruh- pengaruh luar dengan bijak. Sehingga adopsi muatan dan
konten pengetahuan akan sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks
sosial budaya yang ada di Indonesia.
Untuk mewujudkan dan
menjaga itu semua diperlukan prinsip-prinsip dalam melakukan perubahan. Ki
Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai Asas Tricon : Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris. Kontinyu,
kemajuan kebudayaan merupakan keharusan lanjutan langsung dari kebudayaan itu
sendiri. Konvergensi kebudayaan menuju arah kesatuan kebudayaan dunia atau
kemanusiaan. Konsentris kebudayaan harus mempunyai karakteristik dan sifat
kepribadian sendiri sebagai pusatnya dalam lingkungan kebudayaan dunia atau
kemanusiaan. Maka dengan menggunakan Asas Tricon sebagai prinsip melakukan
perubahan kebudayaan bangsa indonesia tidak akan tertinggal. Kebudayaan
indonesia akan berjalan beriringan dengan kebudayaan lain dan memiliki karakter
dan ciri khasnya sendiri. Mari kita refleksikan bersama: Apakah kita sudah
membantu memberikan pembelajaran berdasarkan kodrat keadaan murid? Apa yang
dapat kita lakukan sebagai pendidik agar kodrat keadaan murid dapat menuntun
kekuatan kekuatan dan potensi pada murid?
Kodrat Alam
Kodrat alam merupakan
bagian dari dasar pendidikan murid yang berkaitan dengan sifat dan bentuk
lingkungan tempat murid berada. Salah satu instrumen untuk pengembangannya
adalah melalui pendidikan atau tuntunan. Kita sebagai pendidik dapat
merencanakan pengembangan kemampuan berpikir murid, agar akal budi murid terus
berkembang sesuai kodrat alamnya. Melihat murid sebagai individu yang utuh,
bagian dari masyarakat, serta lingkungannya menjadi keharusan bagi tumbuh dan
hidupnya murid. Potensi setiap anak berkembang dari tahapan yang sederhana
menuju tahapan yang lebih kompleks. Kodrat yang dimiliki setiap murid tidak
sama. Setiap anak memiliki kekuatan kodratnya. Bahkan, anak kembar identik pun
memiliki kodrat masing-masing. Oleh karenanya, murid sebagai individu yang unik
yang berbeda satu dari yang lain harus mendapatkan tuntunan yang tepat sesuai
dengan keunikannya. Sehingga murid dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Seorang anak yang
dilahirkan dengan kodrat alam perkotaan maka ia menjadi bagian dari alam
masyarakat dan lingkungan perkotaan. Oleh karena itu pendidik sebaiknya dapat
menuntun murid untuk menemukan konteks pembelajaran yang relevan terhadap
dirinya dan lingkungan tempat mereka berada. Misalnya, murid yang hidup di
daerah pesisir mendapat wawasan mengenai bahaya yang mengancam ekosistem laut
dan melakukan penelitian bersama untuk menemukan berbagai cara merawat dan
menjaga lautnya seperti menanam Mangrove. Murid bisa mendapat pengetahuan akan
bahaya sampah plastik jika dibuang ke laut dan mengenal jenis-jenis hewan dan
tumbuhan yang ada di laut.
Sebagai pendidik kita
dapat menggunakan metode, strategi, dan teknik pembelajaran sesuai keunikan
potensi masing-masing murid untuk membantu mereka mengembangkan kekuatan
kodratnya. Dengan demikian murid akan merasa leluasa untuk mengeksplorasi
potensinya dan menemukan pengalaman-pengalaman belajar yang bermakna.
Contohnya, yang memiliki potensi seni diberi kesempatan atau ruang untuk
menyelenggarakan pertunjukan seni dengan tema yang dikaitkan dengan peminatan
murid atau disesuaikan dengan pembelajaran tertentu.
Ibu dan bapak guru
mari kita resapi bersama : Apakah kita sudah melihat murid sebagai individu
yang utuh bagian dari alam semesta? Apakah kita sudah peka dan mampu menemukan
keunikan dari setiap murid kita? Apakah kita sudah memberikan tuntunan yang
sesuai dengan keunikan murid kita? dan yang paling penting Apakah pembelajaran
yang kita rancang sesuai dengan kehendak murid dan mendekatkan murid dengan
konteks kehidupan dan segala potensinya.
Kodrat Zaman
Selain kodrat alam, Ki
Hadjar Dewantara mengungkapkan dalam melakukan pembaharuan yang terpadu
hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik baik mengenai
hidup diri pribadinya maupun kemasyarakatannya jangan sampai meninggalkan
segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam
maupun pada zaman. Sementara itu segala bentuk isi dan irama yaitu cara
mewujudkannya hidup dan penghidupannya hendaknya selalu disesuaikan dengan
dasar-dasar dan asas kehidupan kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan
dengan sifat-sifat kemanusiaan.
Ki Hadjar Dewantara
ingin mengingatkan kita para pendidik untuk menuntun murid mencapai
kekuatan-kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman menggunakan asas
tricon yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris. Kontinyu, pendidik menuntun
murid dengan perencanaan dan pengembangan secara berkesinambungan menyatu
dengan alam masyarakat Indonesia untuk mewariskan peradaban. Konvergen,
pendidik menuntun murid dengan pemikiran terbuka terhadap segala sumber
belajar, mengambil praktek-praktek baik dari kebudayaan lain, dan menjadikan
kebudayaan kita bagian dari alam universal. Konsentris, pendidik menuntun murid
dengan berdasarkan kepribadian karakter dan budaya kita sendiri sebagai
pusatnya.
Asas Trikon diyakini
mampu menghadapi derasnya arus perubahan kodrat zaman seperti abad ke-21 secara
global. Pendidikan saat ini ditekankan untuk menuntun anak memiliki
keterampilan abad ke-21 yaitu berpikir kritis dan solutif, kreatif dan inovatif,
serta mampu berkomunikasi dan berkolaborasi. Meskipun demikian pengaruh
pengaruh global harus disaring. Seleksi menggunakan kekuatan utama bangsa
Indonesia yaitu kearifan local, sosial budaya sehingga isi dan irama pendidikan
berupa konten atau muatan pengetahuan yang diadopsi selaras dengan nilai-nilai
kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Maka, cara
mendidik pun harus sesuai dengan tuntutan zaman.
Cara belajar dan
interaksi murid abad ke-21 tentu berbeda dengan murid di pertengahan abad ke-20
seperti apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara “didiklah anak-anak dengan cara
yang sesuai dengan tuntunan alam dan zamannya”. Misalnya, guru membantu murid
untuk melakukan refleksi diri sebagai proses mengenali dan melihat kembali potensi
dirinya kemudian murid diajak untuk mengamati keadaan sekolah dan
lingkungannya. Setelah itu murid menganalisis permasalahan dan potensi yang
muncul dari hasil pengamatannya. Ini adalah contoh belajar berpikir kritis.
Ibu dan bapak guru mari kita renungkan : Apakah kita sudah mendidik murid kita sesuai dengan kodrat jamannya? Apa yang dapat kita lakukan untuk menuntun mereka agar berdaya sesuai kodrat jamannya?
TRIKON
Asas Trikon
Setiap sekolah memiliki kondisi dan
permasalahan masing-masing sehingga pengembangan satu sekolah dengan sekolah
lain sangat beragam sesuai karakteristik lingkungannya. Misalnya, kondisi
geografis Indonesia yang beragama mendorong proses pendidikan yang dinamis.
Sekolah yang berada di lingkungan pantai dapat mengkontekstualkan proses
pendidikannya sesuai dengan lingkungan pantai tempat murid tinggal seperti
menanam pohon bakau untuk mencegah abrasi pantai. Begitu pula sekolah yang
berada di pegunungan, guru dapat mengajak murid untuk menjaga pohon agar
terhindar dari bahaya tanah longsor.
Dengan demikian guru memfasilitasi proses
belajar murid sesuai dengan keadaan lingkungan murid dan potensi yang dimiliki.
Sehingga murid dapat melihat hubungan antara dirinya dengan lingkungan,
masalah, serta potensi yang terhubung pada dirinya dengan proses pendidikan
yang berjalan sangat dinamis. Budaya, kebudayaan, atau cara hidup bangsa itu
bersifat kontinyu; bersambung tak putus-putus. Dari zaman penjajahan sampai
zaman kemerdekaan, perkembangan dan kemajuan kebudayaan serta cara hidup bangsa
terus menerima pengaruh nilai-nilai baru. Proses pembelajaran sejatinya tidak
pernah putus. Usaha sadar yang menikmati setiap proses belajar karena dilakukan
sukarela. Kemauan belajar, rasa ingin tahu, dan motivasi internal dalam diri
murid perlu distimulasi. Sehingga, akan melahirkan murid yang memiliki
kemampuan pengaturan kegiatan belajarnya sendiri atau self-regulatory learning.
Apabila murid mampu memahami hubungan diri dan
lingkungannya, ia dapat pula belajar memahami peran dan kontribusi dirinya
terhadap lingkungan serta menindaklanjuti peran dan kontribusinya tersebut. Hal
ini juga dapat mendorong terbentuknya kemampuan pengaturan belajar mandiri atau
self-regulatory learning, Konvergen. Pengembangan yang dilakukan dapat
mengambil dari berbagai sumber di luar, bahkan dari praktek pendidikan di luar
negeri seperti yang dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara ketika mempelajari
berbagai praktek pendidikan dunia. Misalnya, Maria Montessori, Froebel, dan
Rabindranath Tagore.
Dalam dunia pendidikan pun banyak system
pendidikan yang masuk ke Indonesia tidak lantas kita terima mentah-mentah. Kita
perlu mengolahnya dan hanya menerima yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.
Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggambarkan manusia sebagai titik kecil
yang kemudian bersama dengan yang lain membentuk lingkaran besar atau keluarga,
dan menjadi lingkaran yang lebih besar lagi atau organisasi. Pengembangan
pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan kepribadian kita sendiri.
ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya.
Implementasi Konsep Trikon ; Kontinyu,
Konvergen, dan Konsentris; bisa kita amati atau bahkan kita refleksikan dari
apa yang sudah terjadi dalam proses pembelajaran. Kesinambungan manajemen kelas
yang konsisten memberikan ruang kepada murid untuk mengeksplorasi gagasan, ide,
dan kreativitasnya. Meskipun metode pembelajaran dalam pendidikan
bisa mengacu pada konsep manapun secara terbuka, tapi hal itu tetap harus
dilakukan secara konsentris yaitu tetap mempertahankan jati diri bangsa dan
menjadi diri sendiri.
4 Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti
Pada modul ini akan membahas tentan Budi
Pekerti dan Teori Konvergensi dan Pengaruh Pendidikan
Materi Budi Pekerti
Selamat datang di
modul mendidik dan melatih kecerdasan budi pekerti. Pada kesempatan ini kita
akan membahas materi Budi Pekerti berdasarkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Agar kita dapat memahami gagasan Ki Hadjar Dewantara mengenai tujuan dan azas
pendidikan nasional untuk melatih dan mendidik kecerdasan budi pekerti murid.
Suatu hari, Ibu Handa
mendaftarkan Wuri dan dua temannya untuk mengikuti lomba cerdas cermat
berkelompok tingkat SMP. Wuri merasa paling pandai di antara teman satu
kelompoknya. Pada saat lomba berlangsung, Wuri selalu berusaha dengan cepat
menjawab pertanyaan lomba tanpa mendiskusikannya dengan teman setimnya. Bahkan
sampai membuat teman satu timnya merasa diabaikan akibatnya banyak jawaban yang
salah sehingga membuat timnya tidak masuk ke babak selanjutnya.
Selesai lomba Ibu
Handa mendekati muridnya dan bertanya : Mengapa mereka menjawab soal dengan
cepat sekali dan tanpa diskusi terlebih dahulu sementara diberikan waktu untuk
diskusi oleh panitia. Wuri lalu menjawab dengan menyalahkan teman satu timnya
jika mereka tidak mengerti pertanyaannya apalagi jawabannya. Ia pun mengatakan
jika dirinya saja tidak dapat menjawabnya apalagi teman-temannya sehingga
merasa tidak perlu diskusi. Melihat lomba tersebut Ibu Handa tersadar bahwa
selama ini ia terlalu fokus melatih penguasaan materi lomba dan lalai mengajarkan
perilaku rendah hati dan bekerjasama.
Ibu dan Bapak Guru,
dari cerita tersebut Apakah kita sebagai pendidik cukup hanya membantu murid
dengan kecakapan kognitif saja? Sementara murid membutuhkan tuntunan yang dapat
menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupannya. Budi pekerti atau yang disebut
watak diartikan sebagai bulatnya jiwa manusia yang merupakan hasil dari
bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak, atau kemauan sehingga
menimbulkan suatu tenaga. Budi pekerti juga dapat dimaknai sebagai perpaduan
antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif) sehingga menghasilkan karsa (psycho
motoric). Misalnya seseorang yang memiliki budi pekerti jujur maka kecil
kemungkinan ia melakukan kebohongan atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya
atau bahkan ia akan merasa terganggu jika melihat ketidak jujuran terjadi
disekitarnya.
Ki Hadjar Dewantara
juga menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama dan yang paling baik
dalam melatih karakter anak atau murid. Keluarga menjadi tempat anak atau murid
dalam proses menyempurna menjadi sempurna, sebagai laboratorium awal dan utama
melatih kecerdasan budi pekerti anak agar siap menjalani hidup dalam
masyarakat. Kita sebagai pendidik, di sekolah ikut turut serta berperan
membantu murid untuk menemukan kecerdasan budi pekerti dengan tuntunan dan
teladan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Seseorang yang mempunyai kecerdasan
budi pekerti akan senantiasa memikirkan, merasakan, dan mempertimbangkan setiap
perilaku yang ditampilkannya.
Pendidik harus mampu
memahami kemampuan kodrat anak atau murid sebagai individu yang sadar mampu
memikirkan, memahami, merasakan, berempati, berkehendak, dan bertindak
semestinya dapat kita tanamkan dalam benak kita sebagai pendidik. Agar murid
mampu berfleksi memberikan makna dari pengalaman-pengalamannya untuk mengenal
dirinya. Maka murid dapat menjadi “manusia atau individu yang merdeka” berakal
budi yang menentukan keberadaan dan jatid irinya.
Materi Teori Konvergensi dan
Pengaruh Pendidikan
Salam dan bahagia ibu
dan bapak guru hebat. Di kesempatan ini kita akan mengulas materi yang berjudul
Teori Konvergensi Dan Pengaruh Pendidikan berdasarkan pemikiran Ki Hadjar
Dewantara agar kita dapat memahami hakikat dan tujuan pendidikan berdasarkan
gagasan Ki Hadjar Dewantara sehingga apa yang kita praktikkan di dalam kelas
sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional.
Setiap tahun SMP
kembang putih mengirimkan murid kelas 8 mengikuti kompetisi karya teknologi.
Salah satu murid yang mengikuti kompetisi yaitu Madya, karena ia mendapatkan
peringkat kedua di kelasnya. Wali kelas tanpa ragu meminta dan mendaftarkannya
mengikuti kompetisi tersebut. Madya pun mengiyakan dan terpaksa bersedia
mengikutinya karena segan dan takut menyinggung guru wali kelasnya yang
terus-menerus membujuknya meskipun awalnya ia tolak karena ia tidak ada minat
mengikutinya. Padahal ia merasa tidak cocok dan tidak tertarik dengan kompetisi
tersebut karena ia lebih suka dengan kesenian.
Ia merasa teman
sebangkunya, Yani, yang seharusnya didaftarkan lomba karena ia tahu Yani sangat
tertarik dengan teknologi dan pandai dalam mengoperasikan teknologi-teknologi
baru dengan cepat. Tapi sayangnya ia tidak masuk lima besar peringkat dikelas.
Karena hanya peringkat lima besar dikelas lah yang bisa mewakili sekolah
mengikuti kompetisi tersebut kata guru wali kelas. Seringkali sebagai guru kita
tanpa sadar menggeneralisasi kemampuan murid hanya karena murid tersebut lebih
tinggi peringkatnya. Murid dianggap mau dan mampu akan semua hal seperti cerita
Madya
Bapak ibu guru, Apakah
betul kita sebagai pendidik lebih tahu apa yang diinginkan oleh murid? Teori
konvergensi didasarkan atas dua teori utama. Yang pertama TEORI TABULARASA yang
beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas kosong yang dapat diisi dan ditulis
oleh pendidik dengan pengetahuan dan wawasan yang diinginkan pendidik. Yang
kedua TEORI NEGATIF yang beranggapan bahwa kodrat anak ibarat kertas yang sudah
terisi penuh dengan berbagai macam coretan dan tulisan. Dua teori yang dikenal
juga sebagai aliran daya pendidikan ini tidak serta-merta membuat Ki Hadjar
Dewantara menganggapnya mutlak sebagai suatu kebenaran, tetapi Ki Hadjar
Dewantara memberikan pandangan baru dengan menggabungkan atau mengintegrasikan
kedua pendekatan teori tersebut menjadi suatu pendekatan yang disebut dengan
teori konvergensi.
Ki Hadjar Dewantara
percaya bahwa kode manusia sebagai suatu kertas yang sudah terisi dengan
tulisan-tulisannya samar dan belum jelas arti dan maksudnya. Maka tugas
pendidikan adalah membantu manusia atau individu untuk dapat menebalkan dan
memperjelas arti dan maksud tulisan samar yang ada di kertas tersebut dengan
tuntunan terbaik. Teori konvergensi merupakan pendekatan yang digunakan oleh Ki
Hadjar Dewantara dalam menjelaskan tentang kertas bertuliskan tulisan samar
dengan membagi budi pekerti atau watak manusia menjadi 2 bagian yaitu bagian
biologis dan bagian intelligible.
Rasa takut, rasa malu,
rasa kecewa, rasa iri, rasa egoism, rasa berani, dan segala yang berkaitan
dengan perasaan dan jiwa manusia adalah bagian biologis yang tidak dapat berubah
dan menetap pada individu sejak anak-anak hingga dewasa. Sementara kecakapan
dan keterampilan pikiran, kemampuan menyerap pengetahuan adalah bagian
intelligible yang dapat berubah karena pengaruh keadaan dan lingkungan,
termasuk salah satunya pengaruh
Sebagian mungkin
banyak yang mengalami kesulitan sehingga merasa takut dan malu pada awal
kegiatan di TK, murid masih diantar dan ditunggu oleh orang tua. Namun setelah
berjalannya waktu murid tersebut menjadi murid yang pemberani. Rasa takut dan
pemalu menjadi tidak tampak atau semakin pudar karena sudah mendapatkan
kecerdasan pikiran sehingga murid tersebut mulai pandai menimbang dan
memikirkan sesuatu serta dapat memperkuat kemauannya untuk tidak malu dan tidak
takut.
Hal inilah yang
menyamarkan rasa takut dan malu yang dimiliki murid tersebut karena rasa takut
dan malu itu hanya tersamar saja oleh pikirannya. Terkadang murid tersebut
diserang rasa takut dan malu. Kondisi demikian terjadi saat pikirannya tidak
bergerak, tidak dapat mempertimbangkan dan memikirkan sesuatu untuk memperkuat
kemauannya. Ketika pikirannya tidak bergerak, maka akan memunculkan rasa asli
yang dimilikinya, yaitu menjadi penakut dan pemalu sesuai dengan watak
biologisnya yang tidak dapat berubah. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa
pendidikan dapat mempengaruhi bagian intelligible dan bagian
Melalui proses
pendidikan kecerdasan budi pekerti murid akan bertumbuh dan berkembang sehingga
mampu mengendalikan tabiat asli dan watak biologis akan semakin tersamar dan
menebalkan watak-watak baik murid yang akan mewujudkan kepribadian dan berbudi
pekerti baik.
5 Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan
Materi Mengantarkan Murid Selamat dan Bahagia
Pendidikan sejatinya dapat mengantarkan murid
untuk keselamatan dan kebahagiaan, bagaimana guru tidak hanya mengajarkan
materi pelajaran, tetapi mendorong murid menemukan pemahaman bermakna yang
relevan dengan kehidupannya. Kali ini kita akan membahas materi “Selamat dan
Bahagia” agar kita dapat memahami fungsi pendidikan untuk membantu murid
mencapai “Selamat dan Bahagia” berdasarkan gagasan Ki Hadjar Dewantara. berikut
ilustrasi cerita tentang ibu ani dan muridnya
Setiap hari Ibu Ani selalu mengajar dengan penuh
semangat di depan murid-muridnya, tahun ini dimana penuh tantangan bagi
pendidik karena pandemi Covid-19. Sungguh dapat dibayangkan, pada keadaan
normal saja tugas pendidik tidaklah mudah, dan sekarang diharuskan melakukan
penyesuaian-penyesuaian pembelajaran dengan kondisi wabah Covid-19. Suatu hari
Ibu Ani mengajarkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang sistem pencernaan
manusia. Sejak dari dulu Ibu Ani terbiasa mengambil materi yang diajarkan dari
satu buku teks yang dijadikan pegangannya. Dengan menggunakan metode ceramah
saat mengajar, Ibu Ani merasa nyaman dan cocok menyampaikan materi tentang
sistem pencernaan manusia kepada semua muridnya. Menurutnya murid juga merasa
baik-baik saja ketika ia menyampaikan materinya. Para murid pun khidmat dan
tenang mendengarkan materi yang disampaikan, ujarnya. Dengan meberikan tes dan
menilai dengan angka, Ibu Ani merasa cukup untuk mengevaluasi kemampuan
muridnya. Dan dijadikan sebagai salah satu bahan untuk evaluasi akhir semester
nanti.
Salah satu murid Ibu Ani, yaitu Binbin, lebih
memilih untuk menggambar tubuh dan organ pencernaan di buku tulisnya. Ha ini ia
lakukan karenan metode mengajar Bu Ani membuatnya mengantuk dan sulit
berkonsentrasi. Senada dengan Binbin, Ika juga merasa tidak paham dengan materi
yang disampaikan oleh Bu Ani. Ika lebih suka belajar di rumah menggunakan
youtube, karena lebih atraktif. Sementara itu Binbi dan Ika murid kelas 5 SD
Kembang Mekar, bercerita saat diajar Ibu Guru Ani tentang sistem pencernaan
manusia, Binbin sulit konsentrasi dan mengantuk, sedangkan Ika menggunakan
sumber belajar lain dari youtube yang menurutnya lebih mudah dipahami. Agar
tidak bosan dan mengantuk, Binbin menggambar tubuh dan organ pencernaan manusia
di buku tulisnya. Dan Ika melihat penjelasan sistem dan organ pencernaan
manusia melalui youtube, sambil mendengarkan materi yang disampaikan Ibu Ani.
Pada saat tes, Binbin mendapatkan nilai 40
dari total 100. Sedangkan Ika mendapatkan nilai 70 dari 100, karena ia mempu
menjawab soal tes tentang sistem pencernaan manusia. Binbin diminta Ibu Ani
menyalin informasi apa yang sudah ada di buku teks pelajaran dan kemudian
dinilai. Sedangkan Ika hanya ditegur lain kali untuk memakai buku yang sama
yang dipakai Ibu Guru Ani, agar bisa menjawab soal tes yang diberikan dengan
sempurna. Jam istirahat adalah jam yang paling mereka tunggu-tunggu, mereka
senang sekali karena dapat keluar kelas untuk main di halaman dan membaca di
perpustakaan sekolah. Meskipun kesenangan itu hanya sementara, akan tetapi cukup
mengobati kesedihan dari nilai-nilai yang didapatkannya saat belajar di kelas.
Ibu dan Bapak Guru dari cerita Ibu Ani, Binbin
dan IkA, kita dapat melihat bagaimana Perspektif pendidik tidak selalu sama
dengan perspektif murid. Tidak jarang murid merasakan kebalikan apa yang
dianggap dan dirasakan pendidik.
Ketika tadi Ibu Ani merasa cocok dan nyaman
dengn metode ceramah untuk muridnya, ternyata Binbin merasa bosan dan mengantuk
saat diberikan materi. Demikian pun Ika, ia lebih memilih belajar dari sumber
belajar lain, youtube. Yang berisikan materi yang samadan menurutnya menarik.
Ketika Ibu ani merasa cukup mengukur pemahaman murid dengan tes pilihan ganda,
ternyata Binbin bersedih ketika mendapatkan nilai 40 dan dianggap belum
memahami materi staandar yang ditetapkan Ibu Ani. Padahal ia menuangkan
pemahaman tentang sistem pencernaan manusia melalui gambar-gambar organ
pencernaan manusia. Sementara Ika meskipun sudah dianggap melampaui standar
yang ditetapakan Ibu Ani dan dianggap menguasai materi, tetapi Ika merasa
ketakutan dan cemas karenamenggunakan sumber belajar lain dari Youtube dan
tidak sama dengan Ibu Ani gunakan.
Sebagai pendidik, Ibu Ani sebaiknya bukan
hanya memberikan pengetahuan dan informasi tentang sistem pencernaan manusia
saja, melainkan juga memberikan pemahaman kepada murid tentang fungsi dan
kegunaannya dalam kehidupan murid. Selain itu pendidik sebaiknya juga mengenal
dan memahami kekuatan kodrat anak bahwa setiap murid dapat mengekspresikan dan
membuat pemahamannya sendiri dengan cara yang berbeda. Dalam menilai pemahaman
murid pendidik sebaiknay tidak hanya menggunakan satu jenis alat pengukuran
laul menyimpulkannya. Tetapi dapat menggunakan alat pengukuran lainnya yang
melibatkan murid untuk mereflesikan pemahaman dari pengalaman belajarnya,
evaluasi diri.
Seperti yang terjadi
pada Binbin, Ia mampu mengekspresikan pemahamannya melalui gambar, mungkin juga
murid bisa menjelaskan dengan verbal menggunakan bahasa sendiri, dan beragam
jenis ekspresi pemahaman murid lainnya. Cerita-cerita seperti ini mungkin hanya
salah satu contoh untukk mengingatkan kita, apa sesungguhnya fungsi pendidikan?
Funsi pendidikan
adalah mengantarkan murid agar siap hidup dan memberikan kepercayaan kepada
murid bahwa dimasa depan mereka akan mampu mengisi zamannya, yaitu tidak cukup
hanya hidup untuk kepentingan dirinya, individualistik. Tetapi juga
berkontribusi untuk masyarakat dan lingkungan dimana ia berada, bersama-sama
mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Fungsi pendidikan akan berjalan sesuai
dengan apa yang dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara, jika kita sebagai
pendidik memahami hal-hal sebagai berikut ;
1. Setiap
murid memiliki kodrat kekuatan/potensi-potensi yang berbeda
2. Pendidikan
hanyalah sebagai tuntunan
3. Mendidik
adalah menuntun murid untuk selamat dan bahagia
4. Pendidik
tidak dapat berkehendak atas kodrat kekuatan atau potensi murid
5. Pendidik dapat memberikan daya
upaya maksimal untuk mengembangkan akal budi pekerti murid.
6. Pendidik membantu mengantarkan murid
untuk merdeka atas dirinya sendiri untuk kehidupan dan penghidupannya,
memelihara dan menjaga bangsa dan alamnya.
Kemerdekaan murid
dalam belajar merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan yang
mengantarkan keselamatan dan kebahagiaan. Jika untuk dirinya sendiri ia tidak
bisa mencapai selamat dan bahagia, bagaimana mungkin ia akan memelihara dan
menjaga dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa ataupun alamnya. Oleh sebab itu,
kita sebagai pendidik dapat merenungkan kembali, apakah praktik pembelajaran
saat ini benar-benar mempersiapkan murid agar siap hidup dan mengisi zamannya?
Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu murid mencapai selamat dan bahagia
serta siap hidup dan mampu mengisi zamannya?
Sistem Among
Ki Hadjar Dewantara mengenalkan sistem Among
sebagai suatu metode pendidikan yang menekankan pada proses pembelajaran yang
dikenal dengan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri
Handayani. Ing Ngarso Sung tulodo, di depan memberi teladan yaitu Bagaimana
guru memahami secara utuh tentang apa yang dapat ia bantu kepada murid menjadi
teladan dalam budi pekerti dan tingkah laku. Ing Madya Mangun Karso, di tengah
membangun kehendak yaitu guru diharapkan mampu membangkitkan semangat bersua
Karsa dan berkreasi bersama murid dengan membuka dialog dengan murid berperan
sebagai narasumber dan penuntun. Tut Wuri Handayani di belakang memberi
dorongan, yaitu guru tidak sekedar memberikan motivasi tetapi juga memberikan
motivasi tetapi juga memberikan saran dan rekomendasi dari hasil pengamatannya
agar murid mampu mengeksplorasi daya cipta rasa karsa dan karya nya.
Sistem Among didasarkan pada dua hal yaitu
kodrat alam sebagai syarat untuk mencapai kemajuan pendidikan sesuai dengan
potensi murid dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan
menggerakkan kekuatan lahir dan batin murid hingga dapat mencapai selamat dan
bahagia. Dalam bahasa Jawa, Momong berarti merawat dengan penuh ketulusan dan
penuh kasih sayang serta mentransformasikan kebiasaan-kebiasaan baik disertai
dengan doa dan harapan. Sementara Among yaitu memberikan contoh tentang baik
dan buruk, tanpa harus mengambil hak murid agar bisa tumbuh dan berkembang
dalam suasana batin yang merdeka sesuai dengan dasarnya. Sedangkan Ngemong
adalah proses untuk mengamati merawat dan menjaga agar murid mampu
mengembangkan dirinya bertanggung jawab dan disiplin berdasarkan nilai-nilai
yang telah diperoleh sesuai dengan kodratnya.
Sebagai contoh saat proses pembelajaran guru
dapat bertanya, dan membuka dialog dengan murid tentang perasaannya dengan
berbagai cara seperti melalui gambar, tulisan dan lain-lain yang membuat murid
nyaman mengutarakannya sehingga murid mungkin dapat merasakan perhatian kasih
sayang dari guru yang dapat membangkitkan semangat belajarnya. Guru dapat
menuntun murid untuk memahami bahwa wajar untuk melakukan kesalahan. Selain itu
murid juga mungkin melihat sosok gurunya tersebut sebagai contoh berperilaku kepada
orang lain dengan perhatian dan kasih sayang contoh lain guru juga dapat
mengajak dan melibatkan murid untuk menentukan tujuan belajarnya, dengan
menanyakan kesukaannya keinginan belajarnya dan lain-lain yang murid merasa
dihargai dan didengarkan.
Ibu dan Bapak Guru, mari kita renungkan
bersama, Apakah kita sebagai pendidik sudah menekankan pada proses belajar yang
terjadi dalam diri murid? lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai pendidik
untuk dapat berpihak kepada murid dan memfasilitasi kebutuhan potensi dan
kompetensinya? Selamat belajar, Ibu dan Bapak Guru hebat!
Merdeka Belajar Abad 21
Kompetensi abad 21 menjadi kompetensi yang
perlu dimiliki murid untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Untuk
mencapai itu pendidikan yang memerdekakan murid menjadi slah satu cara, murid
merdeka dalam mengajar, menggali keingintahuannya dengan bimbingan guru
Misalnya guru meminta
murid menghafal perkalian, Tanggal Peristiwa sejarah kemerdekaan dan lain-lain,
yang sifatnya hafalan tanpa dibukakan ruang dialog tentang kegunaannya atau
kebermanfaatannya bagi murid. Mungkin benar cara demikian dapat menambah
wawasan murid. Tetapi, Apakah dengan menghafal kebutuhan belajar murid telah
terpenuhi? Apakah murid memahami apa yang ia hafalkan? dan bagaimana ia
menghubungkannya dengan kehidupan?
Pesan Ki Hadjar
Dewantara, Tuntunlah murid sesuai zamannya. Sekarang guru tidak lagi
menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi guru berperan sebagai
fasilitator pembelajaran, sumber-sumber pengetahuan kini terbuka luas akses dan
beragam bentuknya seperti, adanya mesin pencari yang bisa menyediakan beragam
informasi yang kita inginkan sehingga cara menuntun dan membimbing murid pun
sangat berbeda sebagai fasilitator. Guru menempatkan murid menjadi subjek atau
individu aktif dalam pembelajaran, untuk mencari dan membangun pemahamannya
sendiri. Bukan sebaliknya murid dianggap objek pembelajaran atau individu pasif
yang hanya tergantung pada apa yang diberikan guru.
Kita dapat membantu
menyiapkan murid-murid kita untuk memiliki rasa percaya diri, dalam
berinteraksi dan berkolaborasi bersama warga dunia untuk memecahkan masalah-masalah
Global. Hal ini sulit terjadi, jika kita sebagai pendidik tidak menyadari bahwa
pendidikan tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikir saja, tetapi juga
mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki murid yaitu kecerdasan Rasa, Karsa,
Cipta dan Karya. Agar murid menjadi manusia seutuhnya sesuai pesan dari Ki
Hajar Dewantara.
Salah satu contoh
metode pembelajaran abad 21 yang berpusat pada murid adalah pembelajaran
berbasis proyek, guru dapat mengajak murid mengamati permasalahan dan potensi
yang ada di sekitarnya, kemudian guru bersama murid merancang proyek yang akan
dilakukan. Lalu murid mencari data dan informasi dengan bimbingan guru sampai
murid dapat menyimpulkan dan menyampaikan hasilnya melalui media yang
menurutnya sesuai. Selain itu pembelajaran proyek ini juga sebagai media bagi
guru meningkatkan kompetensi yang dimilikinya untuk menuntun murid dalam
Merdeka Belajar abad 21.
Selain
kemampuan mendengarkan agar murid berani mengeksplorasi sumber-sumber wawasan
pengetahuan, berdiskusi dan berdialog, sampai pada akhirnya membantunya
memiliki kompetensi abad 21 tersebut. Lalu bagaimana dengan pembelajaran kita
saat ini? Mari kita refleksikan bersama! Apakah kita sudah berperan sebagai
guru yang menuntun murid sesuai zamannya? Kompetensi apa yang sudah kita miliki
untuk membantu murid Merdeka belajar abad 21
Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Terbaik
Murid
Membimbing Murid, memperbaiki bangsa.
Guru membimbing dan mendampingi murid dalam
proses belajarnya. Bukan hanya sekedar meningkatkan kecerdasan berpikirnya,
melainkan juga secara tidak langsung berperan memperbaiki bangsa.Murid
seringkali merasa senang dan bangga ketika guru mengkonversi pemahaman
pengetahuannya dalam belajar dengan angka-angka penilaian. Semakin tinggi nilai
angka, semakin dianggap pintar dan cerdas, sebaliknya semakin rendah nilai
angka, semakin dianggap tidak pintar atau tidak cerdas. Hal ini dapat berdampak
pada motivasi belajar murid yang cenderung fokus mendapatkan penilaian antar
tinggi dari guru dan berkompetisi atau bersaing dengan teman-temannya. Belum
lagi sistem pemeringkatan kelas yang dilakukan oleh guru, itu juga menjadi
salah satu pengaruh motivasi belajar murid.
Sebenarnya memberikan apresiasi kepada murid
bukanlah hal yang buruk, jika dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang
berpihak pada anak. Akan tetapi, masih banyak dari kita sebagai
pendidik yang belum memahami prinsip berpihak pada murid tersebut. Bagaimana
perasaan murid ketika ia mendapatkan peringkat paling bawah di kelasnya, atau
mendapatkan nilai ujian yang paling rendah kemudian diumumkan di dalam kelas
tanpa pengertian atau penguatan dari guru dengan tepat. Kecenderungan
mengandalkan ujian atau evaluasi sumatif tanpa didasari atas pemahaman tentang
penilaian itu sendiri, dapat menjadi bumerang dan sangat merugikan murid,
bahkan dapat melemahkan potensi dan kekuatannya. Proses-proses yang dilalui
murid dalam mencari dan membangun pengetahuan dan pemahamannya, juga sebaiknya
menjadi perhatian utama para guru. Dari sanalah guru dapat melakukan penilaian
proses belajar atau formatif, yang juga dapat digunakan untuk membantu
merefleksikan pembelajaran.
Bukan hanya kecerdasan pikiran yang murid
dapatkan dan juga ia dapat mengembangkan kecerdasan sosial emosional melalui
pengalaman belajar sesuai dengan kebutuhannya. Penumbuhan dan
pengembangan karakter murid kadang terabaikan dan tertutupi oleh pengembangan
kecerdasan kognitif dalam proses pembelajaran, padahal pendidikan karakter sama
pentingnya dengan kecakapan kognitif murid yang dapat menjadi modal dalam
kehidupan dan penghidupan kelak. Karakter yang berisikan nilai-nilai yang
diyakini dan menjadi ciri khas setiap murid menjalani hidupnya agar mencapai
keselamatan dan kebahagiaan kesadaran untuk berani bertanya dan berpendapat
merupakan salah satu karakter yang perlu dimiliki murid untuk
mengaktualisasikan diri dimana ia berada.
Dengan karakter berani bertanya dan
mengemukakan pendapat, ia akan terus mengasah keterampilan berpikir kritis nya
mengembangkan kepekaannya pada lingkungan sekitar dan memajukan bangsa dan
negara. Untuk mewujudkan itu mustahil murid akan mampu melakukannya sendiri
kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang memerlukan bantuan orang lain tidak
mungkin bisa dihapus. Oleh karenanya karakter khas bangsa Indonesia yang
didasarkan atas kodrat sebagai makhluk sosial yaitu bergotong-royong atau
bekerja sama menjadi salah satu karakter penting yang murid dapat temukan dalam
pengalaman belajarnya.
Gotong royong atau
bekerja sama merupakan budaya ciri khas bangsa Indonesia, sehingga dengan
membimbing murid untuk menemukan kesadaran bahwa gotong royong atau kerjasama
penting dan bermanfaat baginya, secara tidak langsung menanamkan melestarikan
dan memperbaiki budaya bangsa Indonesia. Maka kita sebagai pendidik dapat
mendampingi murid untuk menemukan, menumbuhkan dan mengembangkan karakter
tersebut sebagai bekal kehidupan dan penghidupannya sekaligus, merupakan bagian
dari kebudayaan kita dalam pembelajaran.Contoh lain ketika guru merencanakan
pembelajaran dengan melibatkan murid untuk menentukan tujuan belajarnya,
melibatkan murid dalam proses belajarnya, dan melibatkan murid dalam
mengevaluasi belajarnya dengan formulir penilaian diri misalnya. Sebagai orang
dewasa kita, hanya dapat membimbing murid untuk memunculkan karakter-karakter
yang menurutnya sesuai dengan nilai dan prinsip yang diyakininya. Mari kita
refleksikan bersama.
Peran Keluarga, Sekolah dan Masyarakat
Momen menjalani pendidikan di lembaga sekolah
merupakan momen yang dinanti-nantikan bagi sebagian orang tua untuk memenuhi
kebutuhan belajar anaknya, ada orang tua yang benar-benar menyerahkan segala
urusan Didik mendidik murid kepada guru dan sekolah sebagai satu-satunya wadah
karena kesibukannya bekerja.Tetapi ada juga orang tua yang ikut proaktif
mendampingi tumbuh kembang anak nya dengan berkolaborasi dengan guru dan
sekolahnya agar apa yang diberikan guru di sekolah selaras dengan apa yang
dilatihkan di rumah. Tidak jarang orang tua menganggap guru sebagai faktor
utama keberhasilan belajar murid sehingga, guru dianggap berhak melakukan
apapun kepada murid asalkan murid berhasil dididik dalam belajarnya.
Seakan-akan beban berat hanya ada di punggung guru dalam mendidik murid padahal
orang tua atau keluarga lah yang menjadi contoh teladan dan berkewajiban
mendidik anak-anaknya.
Tri sentra pendidikan adalah 3 wadah dasar
proses pembentukan pendidikan murid yang terdiri dari alam keluarga alam
perburuan dan alam pergerakan pemuda atau komunitas atau masyarakat. Ketiganya
berperan dan berkontribusi mengembangkan pengetahuan, nilai-nilai dan
keterampilan murid, kita tidak cukup hanya membantu murid dengan wawasan ilmu
pengetahuan dan teladan sikap. Tetapi, juga dapat membantu murid untuk dapat
menemukan suasana atau atmosfer dimana ia hidup dan berada.
Sebagai contoh kasih sayang cinta dan
perasaan-perasaan lain dapat tumbuh dalam hidup keluarga, anak yang berperan
penting menumbuhkan pendidikan budi pekerti yang kuat pendidikan sosial juga
dapat muncul dan tercermin dari interaksi antar anggota keluarga, seperti
tolong-menolong antar mereka, membantu dan menjaga anggota keluarga yang sedang
sakit, bersama-sama menjaga kebersihan dan ketertiban dalam keluarga dan
lainnya, menjadi modal pendidikan sosial yang berasal dari alam keluarga.
Keluarga di sini bukan berarti keluarga inti, ayah, ibu, kakak dan adik saja
melainkan lebih luas dari itu yaitu orang-orang dewasa yang merawat memelihara,
melindungi, dan peduli terhadap tumbuh kembang anak.
Kedua adalah alam perguruan, alam perguruan
ini meliputi semua jenis dan bentuk satuan pendidikan yang berperan dalam
mengembangkan kecakapan berpikir murid. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya dengan
Balai Wiyata. Disinilah kecakapan murid dapat terus diasah melalui pendidikan
intelektual, akan tetapi Ki Hadjar juga mengingatkan kita bahwa semakin cakap
kemampuan berpikir dan luasnya pengetahuan, semakin kuat pula ego dan budi
keduniawian (materialisme) akibatnya dapat menghasilkan jiwa anti sosial murid.
Oleh karean alam perguruan sebisa mungkin dapat selaras dan berkesinambungan,
dengan hidupa alam keluarga dan tidak boleh terpisah, agar murid mendapatkan
kecerdasan kecakapan berpikir dan juga kecakapan sosial emosional.
Alam perguruan atau Balai Wiyata, yang dulu
menjadi tempat satu-satunya mengasah kecakapan intelektual, saat ini bentuk dan
cara menuntun murid menyesuaikan zaman. Sebagai contoh guru menyelenggarakan
pembelajaran daring dengan menggunakan berbagai media murid mencari tahu
informasi dan pengetahuan yang membuatnya penasaran melalui mesin pencari pada
gawainya. Kemudian didiskusikan bersama guru dan teman-temannya, maka guru
perlu memahami konteks kebutuhan dan cara belajar murid pada masa sekarang juga
sekaligus menjadi Mitra kolaborasi dengan keluarga.
Dan yang ketiga yaitu alam pergerakan pemuda
atau masyarakat. Alam pergerakan pemuda atau masyarakat inilah sebagai penguat
pendidikan, baik itu untuk kecerdasan budi pekerti dan sosial emosional murid.
Masyarakat merupakan lingkungan pembelajaran murid atau dapat dikatakan sebagai
laboratorium pendidikan murid. Menumbuhkembangkan apa yang telah ia dapat di
keluarga dan perguruan, di masyarakat pula murid membangun koneksinya dengan
lingkungan dan alam sekitar dimana ia berada untuk mengetahui siapa dirinya dan
perannya di dalam masyarakat. Sama dengan apa yang terjadi pada alam perguruan
majunya teknologi terhubungnya setiap warga negara dengan warga negara lain
melalui jaringan internet, membuat kita berpikir kembali tentang definisi alam
masyarakat yang semakin meluas.
Sebagai contoh keluarga menanamkan nilai
kemandirian pada anak sejak dini artinya sedapat mungkin, anak diberi
kepercayaan untuk dapat mengeksplorasi dan mengerjakan banyak hal secara
mandiri. Selain itu keluarga juga menanamkan prinsip-prinsip kolaborasi
keterbukaan dan dialog. Orang tua atau keluarga dapat membantu anak untuk
mencari sumber-sumber pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan
anak, apabila kemudian menemui kesulitan maka orangtua bisa mengajak anak untuk
mendiskusikannya bersama guru di sekolah. Apabila kemudian
pengetahuan dan pengalaman guru di sekolah belum sepenuhnya sesuai dengan
kebutuhan belajar anak maka, bisa bersama-sama bertanya atau mencari narasumber
lain yang ada di sekitar. Guru dan murid dapat belajar bersama menggunakan
mesin pencari dan sarana lain yang ada di luar sana, yang membantu
memfasilitasi kebutuhan belajar anak.
Ibu dan Bapak Guru. Mari kita refleksikan
bersama! Apakah kita sudah memahami peran keluarga perguruan dan masyarakat dan
menerapkannya dalam pembelajaran yang kita rencanakan? Lalu apa yang dapat kita
lakukan untuk dapat mempraktikkan peran peran tersebut dalam proses
pembelajaran untuk murid-murid kita?
Demikian Ibu Bapak Guru hebat pembahasan kita
tentang topik Merdeka Belajar Salam dan Bahagia
Semoga ini menjadi daya tarik untuk guru-guru kita dari Sabang hingga Merauke supaya aktif menggunakan Platform Merdeka Mengajar,”
BalasHapusSangat menginspirasi untuk dipelajari
BalasHapusMateri yang padat, menambah pengetahuan saya tentang kurikulum merdeka.
BalasHapusBapak Kihajar Dewantara akan selalu dikenang sepanjang ayat. Pemikiran beliau tidak akan pernah usang walau zaman terus berubah.
BalasHapusMateri yg sangat menginspirasi
BalasHapusKHD bapak pendiidkan Indonesia, filosofi pendidikan beliau tetap di pakai sampai sekarang guru sebagai tauladan, pembangun motivasi, pendorong motivasi siswa,
BalasHapusSangat menginspirasi .super
BalasHapusmateri menarik,, menambah diri tentang makna merdeka untuk siswa
BalasHapus